November 6, 2019

Perjalanan Kedua


Halo November!

Dua bulan 2020. Tidak terasa ya, waktu begitu cepat menipu kita.
Hari ini saya mampir nulis di blog setelah melakukan perjalanan singkat yang mengesankan.

Ceritanya hari Sabtu kemarin saya ikut Mas Har pulang ke Desanya di Jombang, Jawa Timur. Sekalian silaturahmi kembali dengan Bapak dan Ibu. Tapi tujuan utamanya adalah melepas segala penat yang ada di kepala saya.  Belakangan kepala saya dipenuhi beragam pikiran yang tidak semuanya positif, jadi rasanya perlu penyegaran pikiran sejenak dan salah satu caranya adalah berjarak dengan sumber-sumber pikiran negatif tersebut.

Saya sudah pernah ke Jombang, Desember 2018. Hampir setahun lalu! padahal rasanya baru-baru saja melewatinya. Saya bahkan masih sangat ingat tempat-tempat yang saya datangi di Jawa Timur Trip pertama saya kala itu.

Kali ini perjalanan kami singkat sekali. Sabtu malam berangkat, Minggu Pagi sampai Jombang, Senin Malam kembali ke Bandung dan Selasa pagi kami tiba di Cimahi. Rabu Pagi saya lanjutkan kembali ke Jakarta untuk bekerja.

Lalu apa yang seru dan berbeda di perjalanan kali ini?
Saya tidak memasang ekspektasi apapun di perjalanan kali ini. Jadinya hal-hal kecil yang saya dapatkan di Desa Mas Har rasanya istimewa. Mulai dari datang pagi-pagi dijemput keluarga Mas Har di Stasiun, makan nasi pecel di pasar tradisional, beli mangga dengan harga sangat murah (yang kemudian diketawain karena mangga di desa tinggal ambil di pohon), bisa jalan-jalan sore di kampung yang masih segar sekali nuansanya setelah diguyur hujan atau bahkan bahagia karena ternyata saya banyak sekali tidur di desa mas har. dan nyenyak! percayalah setelah berhari-hari insomnia di Jakarta, bisa tidur selama dan senyenyak itu adalah anugerah.

Bonusnya tentu jadi bisa foto-foto, padahal di perjalanan pada umumnya saya ogah sekali minta foto atau bahkan difotoin Mas Har, tapi kali ini entah kenapa selalu minta difotoin.



Oh dan iya, akhirnya di perjalanan kali ini kami satu frekuensi tentang slow-holiday, istilah yang saya cipatakan sendiri: Liburan Santuy. Yang tidak dikejar-kejar list harus kemana-mana, bisa eksplor tempat-tempat lokal, bisa makan makanan unik di satu daerah dan ngobrol sama warga lokal.
Karena diliburan kali ini, Mas Har setuju dengan gaya liburan saya yang menurutnya aneh hehe Mas Har juga terlihat lebih bahagia dibanding liburan kami sebelumnya yang penuh ambisi. Seminggu keliling banyak sekali tempat di Jawa Timur dari Bromo sampai peninggalan kerajaan Majapahit di Mojokerto (lihat kan yang satu ambisi siapa satunya lagi ambisi siapa).



Semoga diberikan banyak rezeki dan kesempatan untuk bisa liburan santuy lagi dihari-hari kedepan! untuk kami dan tentu kamu yang baca!


 




October 10, 2019

Terbentur. Terbentur. Terbentur. Terbentuk












Beberapa Bulan kebelakang, rasanya ada banyak sekali meteor yang jatuh dari planet lain ke bumi saya. Datang dari pekerjaan yang tiba-tiba hadir, tugas-tugas tambahan, tantangan baru untuk diselesaikan hingga singgungan-singgungan yang membuat kami berada argumen sering sekali.

We fight a lot. We do. Apalagi saya & Hanafi yang keras kepala dan ga mau ngalah satu sama lain.
Tapi gak pernah bertengkar & saling ga mau ngalah sebanyak pekan lalu.
Fase perang dingin ga ngobrol & ga nyapa datang lagi, ada juga adu argumen panas & saling menyakiti perasaan di grup Serikat buruh yang isinya ya saya, Hanafi & Marina.

Bertengkarnya banyak, tapi saya berani bilang kalau kami berproses lebih baik kali ini. Ribut, tapi ambil waktu untuk akhirnya refleksi barengan. Saling ngobrol apa yg sebenarnya bikin hati gak nyaman. Apa yang sudah baik apa yang perlu ditingkatkan. Dari semua poin refleksi poin mana yang mau diupgrade supaya bisa jadi pribadi yang lebih baik lagi kedepannya.

Pekan lalu saya belajar banyak hal, rasa-rasanya sejak lepas penampatan baru kali ini belajar sebanyak ini lagi karena mau terbuka mendengar feedback dari orang lain. Kesempatan yang juga jadi tempat belajar ulang ttg pentingnya refleksi, memaknai kegiatan dan berani memberikan dan mendengarkan feedback.
Sebuah kesempatan yang akan selalu syukuri karena ternyata saya lebih banyak belajar dibanding memberi.

Apakah setelah ini kami bertiga atau tepatnya saya & Hanafi gak akan ribut lagi? Tentu tidak, tapi saya bersyukur, sungguh bersyukur kali ini kami bertiga tahu batas-batas perasaan satu sama lain dan berusaha belajar untuk menjadi lebih baik di kemudian hari!

Untuk semua kesempatan, pelajaran & keterbukaan. Thank you Twin thank you Hanaf!

September 10, 2019

A Night to Remember: Konser Akbar Monas 2019


Akhir pekan lalu saya berkesempatan menonton konser orkestra untuk pertama kalinya. Serunya berkali-kali lipat karena ini adalah: pengalaman pertama, di ruang terbuka daaan gratis hehe.
Acara konser akbar monas 2019 kemarin diselenggarakan oleh Jakarta Oratorio Society dan Jakarta Simfoni Orchestra.

Sebenarnya acara dimulai pukul 18.30, tapi karena terlalu semangat, saya jam 16.30 saya naik transjakarta ke Monas dari kosan di daerah Rawamangun, begitu sampai, masih sekitar pukul 17.30 dan senang sekali karena bisa dapat tempat duduk yang strategis. Sebelum magrib tempatnya masih sepi, masih banyak bangku kosong. Saya duduk dan ngetag tempat duduk untuk Hanafi, teman saya yang mau aja diajak nonton konser klasik ini (ga tau deh Hanafi suka atau gak). Tapi setelah magrib tempat langsung ramai, kabarnya ada 20.000 orang yang hadir, banyak yang duduk dilantai juga, tapi karena sepertinya yang datang adalah penikmat musik klasik yang paham etika menonton konser klasik, semua yang hadir tertib, tidak berisik, tau kapan waktunya tepuk tangan dan sangat khidmat menikmati lantunan musiknya.

Saya sendiri punya obsesi untuk menonton konser klasik sejak sering membaca komik-komik musik seperti Nodame Cantabile dan Piano No Mori. Kemarin, setelah pertama kali menyaksikan langsung, rasanya mau lagi! haha.




August 18, 2019

Gambar Asri - Agustus 2019





[Review Asri] Menjelang Petang - Banggaber

Menjelang Petang.

Dulu diteriaki ulang oleh ibu.
Kini dipanggil lembur oleh bosku.
Dulu tubuh sudah ditaburi bedak
kini terjebak di kendaraan yang membeludak.
Dulu bersiap untuk pergi mengaji
kini sudah terbiasa saling mencaci.
Dewasaku membuat gamang.
Saat menjelang petang.

-gaber-




Kutipan diatas saya ambil dari halaman belakang buku Menjelang Petang karya Rizal Fahmi atau lebih dikenal sebagai Banggaber. 

Saya sepertinya mengikuti akun @banggaber di Instagram sejak satu atau dua tahun lalu saya lupa persisnya. Setiap karya Banggaber, tak hanya menyajikan visual yang menarik tapi juga dibubuhi kata-kata reflektif yang selalu menancap dalam bagi saya. 

Belakangan, Banggaber seringkali menampilkan karya bertema senja di akun instagramnya. Eh tunggu, Banggaber tak menyebutnya senja sih, tapi petang. Mungkin karena senja erat kaitannya dengan aktivitas ala penggemar musik Indi, sore hari menutup aktivitas dengan menikmati kopi dan mendengarkan musik di warung-warung kopi. Petang, meskipun arti katanya sama, lebih netral, masih bisa diartikan banyak hal oleh banyak orang. 

Saya tidak anti aktivitas ala penggemar musik indi tadi loh, sejujurnya saya sendiri termasuk orang yang lebih senang menghabiskan waktu sore di warung kopi, sambil menggambar, menulis atau sekedar duduk-duduk saja, seringkali sambil membuat to do list dalam seminggu, karena waktu reguler saya bisa duduk duduk ngopi sore hari adalah hari Sabtu atau Minggu. Hari lainnya selalu menghabiskan sore di kantor.

Nah, meskipun cara saya menikmati senja sekarang amat sangat mainstream, saya punya ingatan tersendiri yang begitu melekat tentang waktu-waktu sehabis ashar hingga menjelang magrib ini. Senja, petang, sore teman-teman bisa bebas menggunakan kata apapun. 

Bagi saya, waktu-waktu ini adalah waktu-waktu paling damai, kembali ke kenangan kecil ketika pada waktu-waktu ini biasanya Ibu saya atau Saudara-saudara saya mencari saya untuk pulang, mandi bersiap mengaji. Kadang dengan mudahnya saya pulang. Kadang Ibu bisa sampai marah-marah datang menyeret saya dari arena permainan. Sesudahnya saya mandi, sudah harum meski bedaknya cemong, menunggu adzan magrib dan wajib pergi ke tajug sebutan untuk Mushola di tempat saya tumbuh dulu. 

Menjelang petang, saat-saat sinar matahari menyusup lewat jendela dengan hangatnya, matahari bersinar paling indah saat sore hari, apalagi saat angin juga berhembus lembut. Saya sering menemui sore-sore seperti ini dan sering berakhir menangis. Saking rindunya dengan masa kecil dulu. 
Ternyata menjelang petang meninggalkan kesan yang amat dalam bagi saya. 

Buku Banggaber kurang lebih menceritakan hal yang sama, yang saya suka tentu gambar dengan efek menjelang petang, efek matahari senja yang memang amat ciamik disajikan oleh banggaber. 

Permainan kata Banggaber juga menurut saya luar biasa baik. 
Tak banyak ilustrator yang pandai juga menulis. Bukan sekedar 'menulis' tentunya. Tapi bisa mengartikan hal-hal biasa yang terjadi dalam hidup kita semua, dengan luar biasa. 

Ah iya, karena saya membeli dimasa pre-order, saya sekalian memesan kaosnya untuk Mas Har, kata-kata banggaber di kaos ini pernah diunggah di Instagramnya, membuat saya langsung merepost saking berartinya kata-kata ini bagi saya. Saya merekomendasikan teman-teman untuk membaca buku ini untuk mengalami dua pengalaman: Merefleksikan arti senja bagi teman-teman dan merefleksikan arti kehidupan yang kita jalani saat ini. 

Buku ini akan bisa ditemui di toko buku kesayangan teman-teman Bulan September ini! 
Selamat membaca dan mengartikan kembali makna senja!

Salam,
Asri





July 25, 2019

Menjaga Konsistensi itu SULIT!



Menjadi konsisten memang sulit ya!
Bulan Juli berjalan amat sangat cepat sampai saya tak sadar ini sudah tangal 25, di awal bulan kemarin, saya sempat berjanji untuk menjadi anak baik yang lebih rajin latihan menggambarnya dari pada jajan alat tulis dan alat gambar lucu di Gramedia. Nyatanya hingga hari ini, sketchbook yang saya beli baru terisi setengahnya.

Tapi bulan ini adalah bulan paling banyak saya menggunakan alat tulis dan alat gambar. Padahal biasanya hanya beli lalu ditumpuk di wadah perkakas gambar. Rasanya seru sih hehe. Seperti kembali ke 2015 waktu saya sedang semangat-semangatnya belajar gambar.

Gara-gara ini juga saya jadi sadar kalau alat gambar saya awet banget! Masa Koi Sakura Watercolor Pocket saya masih ada sampai sekarang, udah kotor dan banyak bocel-bocel sih, tapi isinya masih lumayan banyak. Saking jarangnya digunakan melukis. Padahal belinya dari 2014, atau mungkin karena saya campur-campur menggunakan beragam cat air (bisa jadi sih!). Dari semua cat air, yang terlihat signifikan sisa sedikit hanya Pentel, sisanya, Winsor Newton half pan, Giotto, dan Koi masih cukup banyak.

Semalam masih sempat meluangkan waktu untuk membuat sketsa, mengisi buku harian dan jurnal rasa syukur. Mari kita lihat akan sekonsisten apa Asri untuk urusan hobi menggambar dan kecanduan mengumpulkan dan menggunakan alat tulis warna-warni untuk mengisi jurnal :)

July 2, 2019

BALIK BENGKULU


 "Aku akan balik kok ke Bengkulu, setidaknya lima tahun lagi", ucapku pada seorang sahabat, diatas motor, dihari-hari terakhirku di Bengkulu usai menyelesaikan urusan sidang skripsi dan menghitung hari untuk kembali ke Cimahi.

--
Percakapan diatas terjadi pertengahan tahun 2014. Kala itu saya sebenarnya tak benar-benar ingin pergi dari Bengkulu, empat tahun menetap dan belajar disana, rasa cinta saya pada Kota ini tumbuh sedemikian rupa. Teman-teman terdekat saya ada di Kota ini, kesempatan bekerja (yang kala itu saya lihat amat menjanjikan) terbuka lebar. I can do so much things in this City. Itu yang saya pikirkan lima tahun lalu.

Apakah akhirnya saya menetap dan tinggal?
Eww, sayangnya dan syukurnya tidak.

Sayangnya, saya harus meninggalkan Kota ini, kembali ke Cimahi, bekerja di Kota yang selalu saya sebut Kota dimana saya berasal. Meninggalkan banyak kenangan dan teman-teman terbaik yang pernah saya miliki. 
Syukurnya, saya bisa move on, menjalin kembali pertemanan lama, membangun pertemanan baru, lima tahun belakangan tak hanya bekerja dan belajar di satu tempat, lima tahun, empat pekerjaan di tempat berbeda. Saya juga bersyukur karena toh pada akhirnya, teman-teman terbaik yang saya miliki di Bengkulu pergi merantau atau kembali ke kampung halamannya. Tak terbayang betapa merananya jika saya tinggal dan tak ada mereka disana. 

Singkat cerita, saya memenuhi janji untuk kembali lima tahun setelah saya meninggalkan Bengkulu. Untuk sebuah keperluan yang amat menyenangkan karena saya bisa menunaikan dua janji sekaligus dalam satu waktu. Satu: Kembali ke Bengkulu setelah lima tahun. Dua: Hadir di Pernikahan Renti.

Saya membeli tiket pesawat ke Bengkulu dua bulan sebelum saya berangkat. I'm beyond excited. Sempat merasa takut karena seperti mengulang pengalaman pertama kali berangkat, naik pesawat sendirian. (Bedanya kala itu saya diantar alm. Bapak sampai Soekarno Hatta). Ternyata saya satu pesawat dengan Ronald, sahabat saya yang juga mudik untuk menghadiri pernikahan adiknya. Perjalanan yang saya kira akan diisi air mata karena saya mengingat moment diantar Bapak pun sirna, Ronald berangkat bersama istri dan anaknya yang lucu. Saya merasa senang sepanjang perjalanan.

Me & Abang setelah lima tahun tak jumpa

Sampai Bengkulu saya dijemput Abang Ari, sahabat satu geng yang selalu dituakan dan direpotkan. Abang datang basah-basah karena kehujanan. Dan meskipun hari masih hujan, Abang Ari mengantarkan saya ke tempat yang amat sangat ingin saya datangi: Universitas Bengkulu.

How I missed this place.

Rasanya seperti kembali ke sembilan tahun lalu, pertama kali menginjakkan kaki disini. Beberapa orang bingung ketika saya bilang tempat pertama yang ingin saya datangi di Bengkulu adalah kampus. Well, saya menghabiskan hampireluruh waktu ketika kuliah dulu dengan berada di kampus. Bukan hanya ketika ada perkuliahan tapi hampir sepanjang waktu. Meskipun tak mungkin menemui wajah-wajah yang sama, melihat gedung-gedung yang pernah saya lewati dulu, rasanya cukup untuk memanen rindu.

Saya di depan gedung perpustakaan Unib
Di depan GKB III Ruang 1, kelas kuliah dulu
Pulang ke Bengkulu juga berarti bertemu teman-teman terdekat saya ketika kuliah dulu.
Pernikahan Renti semacam ajang reuni bagi saya dan teman-teman.
Senaang sekali rasanya. Lima tahun memendam perasaan ingin pulang ke Bengkulu rasanya tak sia-sia. Saya pulang di waktu dan untuk alasan yang tepat. Walaupun hanya dua hari.

Wait, let just say this is my kinda Bachelorette party. Make sure the bride wont be starving in the morning

Me & My BBFF
Reunion
Err, tentunya tak lengkap menceritakan perjalanan ini tanpa drama didalamnya.
Saya seharusnya pulang hari Minggu sore. Setelah diantar seluruh teman-teman (It's like the good old time, setiap kali meninggalkan Bengkulu, selalu diantar teman-teman terdekat), melewati drama penuh tangis di depan rumah Renti ketika pamit pada Ibu, hampir menangis di rumah Bu Ju, saya . . . ditinggal pesawat.

Whaaaat
Ternyata sebulan belakangan tak ada penerbangan sore dari Bengkulu ke Jakarta dengan Lion Air. Damn. Apesnya mereka tak berkabar, katanya nomor saya tak bisa dihubungi.

Setelah panik dan hampir marah (karena besok harus kerja pagi). Saya tidak jadi marah-marah seperti kejadian-kejadian penumpang ditinggal pesawat yang sering viral di media sosial. Saya cuma minta mereka menyediakan tiket penerbangan pengganti. Senin, yang paling pagi, kalau bisa subuh.
Setelah 30 menit, saya mendapatkan kepastian untuk terbang besok pagi jam 06.00, cukup pagi untuk berada di kantor sebelum jam 11.


Tapi tentu tetap ada hikmah dibalik semua kejadian.
Saya jadi bisa main ke Pantai Panjang, ke tempat dimana saya sering main sepeda bareng Abang Ari dulu. Melihat matahari terbenam dengan cara yang beberapa tahun lalu jadi cara yang 'biasa' namun sekarang jadi luar biasa. Juga bisa menginap di tempat Bu Ju, adik Ibu yang tinggal di Bengkulu.

Besoknya, saya kembali dengan hati yang penuh syukur.
Ahhhh, rasanya senang sekali bisa pulang.

Jadi kapan balik lagi ke Bengkulu, As?